Pikirkan Karyawan Sebelum Merger

merger          Sekelompok karyawan PT Telkom berbondong-bondong mendatangi Kantor kementerian BUMN dan Istana Negara pada 16 Desember 2010. Kedatangan mereka untuk menolak merger antara Flexsi dan Esia.

Terlepas dari pro dan kontra dalam rencana merger, penolakan tersebut menandakan penggabungan yang dilakukan baik dengan cara merger mapun akuisisi tidak selalu mulus. Penolakan proses merger dan akuisisi (M&A) yang dilakukan oleh Sekar Telkom bukanlah kasus yang pertama. Banyak kejadian serupa yang menandakan penolakan terhadap M&A.

Sejatinya merger dan akuisisi (M&A) bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui peningkatan skala ekonomi, penetrasi pasar, dan meningkatkan kapasitas. Akan tetapi kebanyakan eksekutif perusahaan lebih mudah memutuskan untuk melakukan M&A ketimbang menyelesaikan masalah setelah M&A dilakukan.

Kegiatan M&A sudah dimulai sejak tahun 1895. Menurut, Martin Lipton, dari Osgood Hall law School York University dalam makalahnya  Merger Waves in the 19th, 20th and 21st Centuries  (2006)  aktifitas  M&A telah memasuki gelombang ke -8. Dimana M&A sudah mengalami bentuk dari pertamanya yang hanya horizontal merger (1897-1904) menjadi shareholder activism, private equity dan leverage buy out (LBO) pada gelombang ke -8 (2003- 2008).

Awal abad XX  nilai kapitalisasi M&A mencapai 20% dari GDP, namun  menjelang akhir abad XX nilai M&A turun menjadi 11% dari GDP. Menurut data Thomson Reuters, tahun 2010 nilai M&A mencapai USD2,2 triliun.

Sekadar menggambarkan saja, penelitian Schweiger, Csiszar and Napier (1993) menunjukkan bahwa bahwa sejak tahun 1983 penggabungan usaha yang terjadi di Amerika, setiap tahunnya mencapai angka 2500 lebih. Angka ini belum termasuk keterlibatan perusahaan Amerika dalam M&A antar negara. Di Cina misalnya antara tahun 1985-1996 terjadi M&A dengan total nilai US $ 5,3 milyar (Milman, 1999).  Secara keseluruhan, M&A yang terjadi pada tahun 1980-an dan periode sesudahnya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan boom M&A tahun 1960-an.

Meski sudah berlangsung lama, perjalanan M&A di dunia bisnis tak selalu berjalan mulus. Bahkan bisa dikatakan fenomena yang paradoksal. Di satu sisi banyak perusahaan yang melakukan M&A sebagai bentuk strategi bisnis tetapi juga tak sedikit yang justru mengalami kegagalan secara bisnis. Tingkat kegagalan M&A juga relatif tinggi berkisar antara 50% sampai 70% (Cartwight and Cooper 1993c). Termasuk dalam kategori kegagalan M&A misalnya: penggabungan usaha tersebut tidak mencapai tujuan finansial yang dikehendaki, tidak meningkatkan harga saham di pasar bursa, tidak menciptakan sinergi yang biasa disebut “2+2 = 5 effect”), dan ujung- ujungnya terjadi perceraian kembali tidak lama setelah penggabungan usaha tersebut berlangsung.

Bahkan, lebih tragis lagi, menurut Dennis L Robert, dalam bukunya “The Role Of Human Resources in Mergers and Acquisition” banyak perusahaan yang melakukan M&A justru memiliki nilai yang lebih rendah setelah enam bulan M&A dilakukan.

Dia mengatakan kegagalan ini disebabkan kurang dipehatikannya masalah human resources (HR) dalam prosesnya. Hal ini terlihat dari kurag dilibatkannya professional HR dan mereka yang berkaitan langsung dengan karyawan seperti serikat pekerja. Padahal data yang ada menunjukkan bahwa dari lima sebab kegagalan M&A, tiga dianataranya berada di wilayah HR.  Ketiga hal tersebut adalah ; kehilangan produktifitas, kultur yang tak cocok da kehilangan talenta kunci

Menurut Liptop, kondisi demikian, tak melibatkan orang HR dan serikat pekerja, adalah sebuah “yurisdiksi” bagi perusahaan yang melakukan M&A. menurutnya, perusahaan yang hendak melajukan M&A seperti sudah dititahkan untuk tidak terlalu mendengarkan suara karyawan. Bisa dikatakan bahwa sikap resisten dari karyawan , dalam berbagai bentuk, terhadap merger tidaklah berarti dalam penentuan merger. Bagaimanapun hokum-hukum yang melindungi pekerja dari pemutusan hubungan kerja atau membayar berbagai tuntutan adalah penghambat bagi proses merger di dalam yurisdiksi nya.

Meski demikian, tak semua proses M&A menghadapi masalah HR yang sama. Bagi kegiatan M&A yang dilakukan secara cross boarder masalah budaya jauh lebih kompleks disbanding proses M&A antar perusahaan dalam negeri. Terlebih lagi jika perusahaanya mempunyai pemilik yang sama, pemerintah misalnya.

Untuk M&A lintas negara, magnitude masalah terletak pada sukarnya menyatukan dua budaya kerja yang karena beda latar belakang sosial. Kondisi demikian berdampak pada perbedaan gaya manajemen dan cara mengambil keputusan sehingga memunculkan masalah penurunan produktifitas yang berujung penurunan kinerja. Sedangkan pada perusahaan yang berasal dari negara yang sama dengan latar belakang sosial sama permasalahan lebih pada masalah pemutusan hubungan kerja dan besaran pesangon. Terbentur masalah  aspek legal dan perpajakan.

Tak terkecuali di badan usaha milik negara (BUMN). Proses dan kepentingan merger BUMN tak melulu mempertimbangkan bisnis. Menurut Abdul Latief Algaff, Ketua Federasi Serikat Pekerja, merger anta BUMN dan dengan swasta tak selalu mudah. Mengingat BUMN mempunyai stakeholder yang berbeda dengan swasta sehingga aspek yang dipertimbangkan sangatlah kompleks. Di swasta merger hanya disandarkan pada aspek untung rugi saja. Selama menguntungkan dijalankan. Di BUMN tak cukup hanya menguntungkan tapi juga implikasi sosialnya juga harus dipertimbangkan. Karenanya, tambah Latief, kajian merger sudah dilakukan bertahun-tahun oleh pemerintah (kementerian BUMN) namun realisasinya baru beberapa tahun kemudian.

Yang menjadi masalah, lamanya interval waktu antara kajian dan realisasi acapkali mengundang keresahan karyawan yang berkepanjangan. “Rencana penggabunga saja sudah mengundang keresahan karyawan.” kata Wisnu Adhi Wuryanto, Ketua Serikat Karyawan (Sekar) PT Telkom.

Sungguh tidak menguntungkan mempekerjakan karyawan yang sedang resah. Disinilah, dituntut kerjasama yang baik antara manajemen dan karyawan (serikat pekerja). komunikasi yang baik pada keduanya akan menghilangkan ketiadaan informasi dan dengan sendiri mengurangi keresahan karyawan.

Selama dikomunikasikan dengan baik maka bukan tidak mungkin merger dapat berjalan denga baik. Menurut Tuhu Bangun, Ketua Serikat Pekerja PTPN III, sejauh untuk kepentingan kemajuan perusahaan penggabungan tak ada yang mempermasalahkan. Hanya saja selama ini ketiadaan master plan terhadap holding itu menjadi sumber keresahan. Ditambah lagi karyawan tidak mendapat infoirmasi yang memadai tentang rencana itu.

Menurut Latief, harus dipahami bahwa merger haruslah menjadi aksi korporasi hasil kolaborasi antara karyawan , manajemen dan pemegang saham. “Jangan merger menjadi menara gading dan hanya diketahui oleh manajemen saja,” katanya. Jika memang tujuannya memajukan perusahaan maka sebaiknya gap antara kebijakan yang dilansir oleh manajemen dengan karyawan harus dihilangkan.

Tapi juga, tambah Latief, jangan merger (penggabungan) selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Sudah menjadi kenyataan di dunia bisnis global bahwa merger untuk menambah kekuatan kompetisi perusahaan agar semakin kompetitif dan berdaya saing. Untuk itu penggabungan seperti sebuah keniscayaan agar tetap berkesinambungan bisnisnya. Dalam konteks ini cara terbaik agar tetap digunakan perusahaan adalah meningkatkan kompetisi karyawan.

Asia Akan Menjadi Lahan Subur M&A
Tahun 2010 menjadi tahun monumental bagi gelombang M & A . Pada tahun 2010 kegiatan M&A mencapai USD2,2 triliun. Sejak tahun 2007, belum pernah kegiatan M&A sebesar ini nilainya. Inilah peningkatan tajam pertama kalinya sejak tahun 2007. Seperti yang ditulis Reuters 3 Januari 2011, tahun 2007 dapat menjadi awal yang mengesankan sekaligus menjadi era baru transaksi M&A di mana negara berkembang menyumbangkan bagian yang lebih besar.

Data Thomson Reuters menunjukkan bahwa M&A tumbuh mendekati seperlima  dari tahun ini. Dengan nilai global sebesar $2.25 trillion. Negara emerging market mendominasi pertumbuhannya dengan mencapai angka  peningkatan sebesar 17 % dari nilai transaksi. Diperkirakan sektor yang paling sibuk melakukan M&A adalah pertambangan (mining).

Eksekutif, bankir, investor besar seperti Schroders, dan analis di bank-bank termasuk Credit Suisse, Nomura, dan Societe Generale memprediksikan kenaikan lebih lanjut di tahun depan.  “Kami merasa volume M & A volume akan membaik tahun depan, dan Asia – lagi – akan menjadi bagian yang lebih besar dari persamaan,” kata Scott Matlock, Kepala M&A Internasional Morgan Stanley. Deutsche Bank (DBKGn.DE), penasihat merger kelima tersibuk di dunia, mengatakan tahun depan bisa membawa kenaikan lebih besar. “Peningkatan aktivitas M & A pada tahun 2011 harus melebihi tahun 2010,” kata Henrik Aslaksen, kepala global Deutsche of M & A.

Transaksi M&A pada emerging market mencapai rekor US$ 378.billion, sementara pasar negara maju tertinggal. Global M&A memang naik 19 persen, namun di AS M&A hanya naik 11 persen dan di Eropa hanya naik 5 persen. Colin Banfield, (CN) Kepala Citigroup M & A untuk Asia-Pasifik, mengatakan nilai tukar mata uang membantu nilai perusahaan –perusahaan regional yang tumbuh secara ambisius dan berfikir untuk transaksi lebih besar.

Tetapi di samping beberapa kenaikkan nilai perusahaan telekomuniasi di pasar negara berkembang, dan  pembelian pembuat mobil China Geely’s atas Volvo dari  Ford,  banyak deal bisnis dari pasar-pasar baru yang bertujua mengamankan sumber daya alam dan teknologi mereka.

Sektor energi dan  listrik menjadi sektor yang tersibuk. Dengan peningkatan transaksnya mendekati 40 persen ddenga nilai mencapai US$482 billion, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor bahan mentah. Perusahaan-perusahaan Asia termasuk  Sinopec Corp (China) dan PTT Exploration and Production (Thailand) melakukan pembelian terhadap ladang minyak milik Korea National Oil Corp’s dan mengambil alih dari Britain’s Dana Petroleum.

“Pemain Asia, dipimpin oleh China, membuat lahan yang siap pakai untuk sebagai sumber daya bagi perekonomian untuk beberapa tahun ke depan,” kata Jeremy Wilson, Co-Head of Natural Resources  JPMorgan. Jika Eropa gagal menyelesaikan krisis utang Yunani dan Irlandia maka aksi M&A diperkirakan hanya tumbuh 5 persen ($589 billion).

 

 

 

 

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s